jpnn.com, JAKARTA - Pengamat valuta asing atau valas Ibrahim Assuaibi menganalisis penyebab nilai tukar rupiah kembali anjlok sehingga kurs dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Kamis (4/6/2025) menembus angka Rp18.000. Menurut analisisnya, faktor eksternal masih menjadi pemicu merosotnya mata uang Indonesia tersebut terhadap USD.
Ibrahim menuturkan konflik Iran dengan AS yang sampai saat ini terus memanas meskipun secara sporadis tidak begitu besar.
Di sisi lain, Israel terus memperluas wilayahnya di sisi selatan Libanon sehingga membuat Iran gerah dan siap terlibat konfrontasi demi membela negeri sarat konflik itu dalam mempertahankan kedaulatannya.
"Ini membuat satu ketegangan tersendiri terhadap kondisi global," kata Ibrahim dalam pesan video.
Selain, itu kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah juga masih menjadi pemicu terbesar pelemahan rupiah. Ibrahim menyebut hal itu memicu kenaikan biaya transportasi logistik sehinga berdampak laing pada inflasi.
Ibrahim menyebut inflasi tinggi itu berisiko memicu bank sentral AS yang dikenal dengan sebutah Federal Reserve atau The Fed kemungkinan besar mempertahankan suku bunga tinggi. Ada potnsi The Fed menaikkan suku bunga dalam tahun ini setidaknya sekali.
"Ini mengindikasikan inflasi di Amerika akibat dari penutupan Selat Hormuz begitu luar biasa dampaknya," tuturnya.
Saat ini, harga bahan bakar minyak di Amerika terus mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Oleh karena itu, Ibrahim tak heran dengan USD yang terus mengalami penguatan, sedangkan rupiah kian tertekan.







































