jpnn.com, DILI - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto melakukan dialog dengan pimpinan Partai Fretilin termasuk Sekretaris Jenderal Mari Alkatiri di Kantor Fretilin, Dili, Timor Leste, Kamis (4/6). Pertemuan itu menjadi ajang pertukaran pandangan mengenai demokrasi, konsolidasi negara, hubungan Indonesia dan Timor Leste, hingga tantangan menjaga ideologi dan warisan para pendiri bangsa.
Dalam pertemuan tersebut, Hasto didampingi Ketua DPP PDIP Bidang Organisasi Andreas H. Pareira, Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan PDIP Andi Widjajanto, serta Direktur Luar Negeri PDIP Hanjaya Setiawan. Hasto menegaskan bahwa PDIP dan Fretilin memiliki kesamaan platform politik yang inklusif dan menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi.
“PDI Perjuangan dan Fretilin memiliki platform inklusif yang sama. Kami digerakkan oleh nilai-nilai kesetaraan, demokrasi, kemanusiaan, dan keadilan sosial. Semua perbedaan disatukan oleh falsafah Pancasila,” ujar Hasto.
Hasto juga menyinggung tantangan konsolidasi negara dalam proses pembangunan bangsa. Ia menjelaskan bahwa Bung Karno pernah mengingatkan bahwa demokrasi yang terlalu dini dan terlalu liberal dapat menyulitkan proses konsolidasi negara yang baru merdeka. Pandangan tersebut, kata Hasto, memiliki kesamaan dengan pengalaman yang dihadapi berbagai negara berkembang, termasuk Timor Leste.
Menanggapi hal itu, Sekjen Fretilin Mari Alkatiri menyampaikan bahwa demokrasi multipartai yang berkembang terlalu dini juga berpotensi menimbulkan kesulitan dalam konsolidasi internal suatu negara. Alkatiri juga mengenang pengaruh besar Bung Karno dalam perjalanan hidupnya.
“Saya sejak kecil mengenal Bung Karno. Saat muda saya mengikuti pidato-pidato Bung Karno melalui radio. Pidato Bung Karno menjadi inspirasi yang menggelorakan semangat saya saat muda,” ujar Alkatiri.
Ketua DPP PDIP Bidang Organisasi Andreas H. Pareira menyoroti eratnya hubungan Indonesia dan Timor Leste. Menurutnya, kedua negara memiliki keterkaitan yang sangat kuat baik dari sisi sejarah, budaya, maupun masa depan kawasan.
“Apa yang terjadi di Timor Leste akan memiliki pengaruh terhadap Indonesia. Sebaliknya, apa yang terjadi di Indonesia juga akan mempengaruhi Timor Leste. Sebagai saudara, sudah selayaknya perbatasan negara tidak dibuat untuk memisahkan, melainkan justru menyatukan,” kata Andreas.







































