jpnn.com, PALEMBANG - Usaha peternakan ayam petelur di Sumatera Selatan menghadapi tekanan dari berbagai sisi.
Selain harga telur murah yang beredar di aplikasi online, peternak juga harus menanggung kenaikan biaya operasional akibat kemarau dan dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ketua Asosiasi Perunggasan Provinsi Sumatera Selatan Ismaidi mengatakan kondisi tersebut mulai memengaruhi arus kas atau cash flow sejumlah peternak.
Bahkan, ada peternak yang mulai mempertimbangkan untuk menjual kandangnya karena tekanan usaha yang semakin berat.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah penjualan telur melalui aplikasi online dengan harga sangat murah. Dalam sejumlah program bundling, telur bahkan ditawarkan mulai Rp 2.500 hingga Rp 7.500 per kilogram.
Menurut Ismaidi, harga tersebut jauh di bawah harga telur di tingkat peternak yang saat ini berada di kisaran Rp 25.740 per kilogram.
"Ini tentunya sangat berpengaruh terhadap pengusaha telur. Masyarakat akhirnya meminta harga murah, sementara kami sebagai pengusaha menjual telur rata-rata Rp 25.740 per kilogram," ujar Ismaidi.
Ia menilai penjualan dengan harga sangat rendah berpotensi membentuk persepsi di masyarakat bahwa telur dapat diperoleh dengan harga murah, sementara peternak harus menanggung biaya produksi yang cukup besar.



















.jpeg)




























