jpnn.com, JAKARTA - Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa mengatakan sikap wait and see investor jelang rilis Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI) AS menjadi pemicu pelemahan rupiah.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Kamis, bergerak melemah 36 poin atau 0,21 persen.
Mata uang garuda berada di level Rp 17.547 per dolar AS (USD) dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.511 per USD.
“Pasar saat ini menantikan rilis PPI AS pada Kamis malam dan CPI AS pada Jumat (11/9) malam,” kata Amru di Jakarta, Kamis.
Dua data ekonomi tersebut dinilai akan menjadi indikator penting dalam melihat arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Kondisi ini membuat pelaku pasar lebih berhati-hati, sehingga rupiah mengalami koreksi meskipun sejumlah sentimen dasarnya masih cukup positif.
Lebih lanjut, pelemahan rupiah juga mencerminkan konsolidasi setelah penguatan cukup kuat pada hari sebelumnya.
“Meskipun sentimen domestik masih positif dan dolar AS secara umum masih berada dalam tekanan, kenaikan yield US Treasury 10 tahun ke sekitar 4,84 persen kembali meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan menahan penguatan rupiah,” ujar Amru.
















































