jpnn.com, JAKARTA - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menekankan pentingnya peran serta industri dalam negeri dalam upaya pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia.
Kesiapan industri lokal dinilai menjadi kunci agar transisi energi memberikan manfaat ekonomi yang nyata.
“Jadi gradual melihat juga kesiapan industrinya, dan melihat sambil juga awarebahwa ada economic benefit kalau kita juga mengutamakan TKDN (tingkat komponen dalam negeri) atau mengutamakan di industri dalam negeri,” kata Direktur BPI Danantara Lucky Lukman dalam diskusi publik di Jakarta, Selasa.
Menurut Lucky, pengembangan EBT di Indonesia tidak bisa lepas dari elemen produksi lokal atau local content. Tak hanya lebih efisien dari segi biaya, adanya produk atau teknologi terkini dengan TKDN juga menjadi nilai tambah di mata investor di sektor energi bersih tersebut.
“Jadi memang harus dilihat benar dan di-exercise bagaimana kita punya strategi untuk membuat ini lebih lokal, tapi juga tidak membuatnya jadi makin mahal,” ujar Lucky.
Hal itu, lanjut dia, penting menyusul Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 yang menjadi acuan strategis pembangunan sistem ketenagalistrikan nasional selama 10 tahun ke depan.
Berdasarkan rencana tersebut, total penambahan pembangkit listrik selama 1 dekade ke depan sebesar 69,5 gigawatt (GW) dengan porsi bauran EBT mencapai 76 persen sekaligus menjadikan RUPTL 2023-2034 yang paling hijau hingga saat ini.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti mengatakan transisi energi sudah tidak terelakkan lagi untuk menjadi salah satu pendorong investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.









































