jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Tingginya populasi kucing peliharaan di Indonesia diiringi penumpukan limbah pasir bentonite konvensional yang sulit terurai dan berdebu.
Menjawab tantangan tersebut, sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) yang tergabung dalam Tim Felyhart berhasil menciptakan inovasi pasir kucing berbahan dasar ampas tebu yang ramah lingkungan sekaligus terintegrasi dengan sistem pemantauan kesehatan digital.
Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) ini beranggotakan lima mahasiswa lintas disiplin, yaitu Arsi Cahyani, Hayya Majida Amani, dan Pratiwi Putri Hasibuan dari Fakultas Teknik, Rayhan Farel Ramadhani dari Fakultas Kedokteran Hewan, serta Humairo Labiiba dari Sekolah Vokasi.
Dibawah bimbingan dosen Departemen Patologi Klinik FKH UGM Madarina Wassisa, mereka mengembangkan produk bertajuk Felyhart.
Ketua Tim Felyhart Arsi Cahyani mengatakan pengembangan produk ini dilatarbelakangi oleh tingginya volume sampah pasir sintetis serta risiko pertumbuhan bakteri jika pasir tidak menyerap cairan secara maksimal.
"Dari situ, muncul gagasan untuk mengembangkan pasir kucing berbahan dasar limbah ampas tebu yang lebih mudah terurai sekaligus membantu mengurangi limbah yang belum termanfaatkan," ujar Arsi, Rabu (2/9).
Pasir Felyhart memadukan ampas tebu dengan natrium propionat yang berfungsi menekan pertumbuhan mikroba guna mencegah transmisi penyakit fekal oral.
Penggunaan bahan baku limbah lokal ini juga membuat biaya produksi lebih terjangkau dibanding produk pasir komersial lainnya.






































