jpnn.com, PALEMBANG - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) muaki mengganggu aktivitas pendidikan di Sumatera Selatan.Pemerintah Provinsi Sumsel tidak memberlakukan satu pola pembelajaran yang seragam bagi seluruh sekolah.
Gubernur Sumsel Herman Deru mengatakan, keputusan terkait kegiatan belajar mengajar diserahkan kepada masing-masing sekolah dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara di wilayah masing-masing.
"Kami kembalikan ke sekolah masing-masing," kata Deru saat diwawancarai di Griya Agung Palembang, Kamis (3/9/2026).
Menurutnya, kepala sekolah bersama komite sekolah memiliki kewenangan menentukan langkah yang dinilai paling aman bagi peserta didik selama kondisi udara terdampak kabut asap.
"Yang paling tahu kondisi anak-anak dan kualitas udara di daerahnya adalah sekolah masing-masing. Jadi, silakan disesuaikan dengan kondisi di lapangan," ujar Deru.
Sejumlah opsi dapat diterapkan sekolah, muali dari pembelajaran hybrid, penyesuaian jam masuk, mempercepat waktu kepulangan siswa, hingga menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Kebijakan tersebut memungkinkan setiap sekolah menyesuaikan kegiatan belajar mengajar dengan kondisi di lapangan. Sekolah yang berada di wilayah dengan kualitas udara buruk dapat mengambil langkah lebih ketat untuk mengurangi paparan kabut asap terhadap siswa dan tenaga pendidik.
Dengan pola tersebut, pemerintah daerah tidak memaksakan satu kebijakan untuk seluruh wilayah, mengingat tingkat paparan kabut asap dan kondisi kualitas udara di setiap daerah berbeda. (mcr35/jpnn)









































