jpnn.com - Ekspor kopi Sumatra Selatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam dua tahun terakhir. Dalam tiga kali pengiriman pada 2024, frekuensinya melonjak menjadi 14 kali pada 2025 dengan nilai ekspor mencapai Rp 12,1 miliar.
Tren tersebut menjadi modal bagi Sumsel untuk memperluas pasar kopi ke negara tujuan baru. Salah satu yang kini dibidik adalah Rusia, yang dinilai memiliki peluang besar bagi kopi Indonesia.
Peluang ekspor kopi Liberika Sumsel ke Rusia dibahas dalam Webseries Go Ekspor Badan Karantina Indonesia (Barantin) bertajuk "Kulas Tuntas: Kopi Liberika Sumsel Menembus Pasar Rusia."
Kegiatan tersebut mempertemukan Karantina Sumatera Selatan, Atase Perdagangan Indonesia di Moskow, pemerintah daerah, serta pelaku usaha untuk membahas kesiapan komoditas sebelum masuk pasar Rusia.
Kepala Karantina Sumatera Selatan Sri Endah Ekandari menerangkan, Sumsel merupakan salah satu daerah penghasil kopi utama di Indonesia. Kontribusinya mencapai sekitar 27 persen terhadap produksi kopi nasional.
"Komoditas ekspor harus dipastikan memenuhi persyaratan sejak dari daerah asal sehingga aman, sehat, bermutu, dan dapat diterima oleh negara tujuan," terang Sri, Kamis (3/9/2026).
Selain produksi yang besar, peluang ekspor kopi Sumsel juga terlihat dari peningkatan pengiriman. Pada 2024, tercatat tiga kali ekspor dengan nilai Rp 1,5 miliar. Angka itu meningkat pada 2025 menjadi 14 kali pengiriman senilai Rp 12,1 miliar.
Hingga Juli 2026, ekspor kopi Sumsel tercatat sebanyak 8,7 ton dengan nilai Rp 652 juta. Australia masih menjadi tujuan utama, sementara pengiriman sebelumnya juga telah menjangkau Malaysia, Arab Saudi, dan Singapura.









































