Keamanan Humanis Jadi Kunci Sukses Sidang Pleno XII FABC

9 hours ago 24

Keberhasilan penyelenggaraan Sidang Pleno XII Federation of Asian Bishops' Conferences (FABC) 2026 di Jakarta tidak hanya ditandai dengan lancarnya seluruh agenda para uskup se-Asia, tetapi juga terciptanya situasi yang aman, nyaman, dan penuh semangat persaudaraan. Foto: Source for jpnn

jpnn.com, JAKARTA - Keberhasilan penyelenggaraan Sidang Pleno XII Federation of Asian Bishops' Conferences (FABC) 2026 di Jakarta tidak hanya ditandai dengan lancarnya seluruh agenda para uskup se-Asia, tetapi juga terciptanya situasi yang aman, nyaman, dan penuh semangat persaudaraan. Di balik suksesnya perhelatan gerejawi berskala internasional tersebut, tim pengamanan yang dipimpin Brigjen TNI (Purn.) P. Gunung Sarasmoro, dan Irjen Pol (Purn.) Herry Dahana, yang keduanya berasal dari Ordinariatus Castrensis Indonesia (OCI) atau Keuskupan Umat Katolik di lingkungan TNI-Polri, mengedepankan pendekatan profesional, humanis, dan tidak mengganggu jalannya kegiatan rohani.

Brigjen TNI (Purn.) P. Gunung Sarasmoro menegaskan, filosofi pengamanan yang diterapkan selama Sidang Pleno XII FABC bukanlah menghadirkan kekuatan secara mencolok, melainkan memastikan seluruh peserta dapat mengikuti setiap rangkaian kegiatan dengan rasa aman tanpa merasa diawasi secara berlebihan. "Bagi kami, ukuran keberhasilan pengamanan bukanlah banyaknya personel yang terlihat, melainkan ketika para peserta dapat berdoa, berdialog, dan menjalankan seluruh agenda dengan tenang tanpa pernah merasa sedang dijaga secara berlebihan. Filosofi yang kami pegang adalah security that is present, but not intrusive. Keamanan harus hadir, namun tidak mengganggu," ujar Gunung Sarasmoro.

Menurutnya, pendekatan tersebut diwujudkan melalui sistem pengamanan yang adaptif, berbasis pencegahan, serta mengedepankan sikap ramah sehingga suasana tetap hangat dan mencerminkan wajah Indonesia yang bersahabat.

Sementara itu, Irjen Pol (Purn.) Herry Dahana menegaskan bahwa dalam kegiatan internasional seperti Sidang Pleno XII FABC, keamanan tidak dapat dipisahkan dari keramahtamahan. "Keamanan dan hospitality bukan dua hal yang bertentangan. Justru keduanya harus berjalan seiring. Setiap petugas kami memahami bahwa mereka bukan hanya menjalankan fungsi pengamanan, tetapi juga menjadi wajah pertama Indonesia yang dilihat para tamu internasional saat para delegasi dari berbagai negara tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Karena itu, pelayanan yang sopan, komunikasi yang baik, serta penghormatan terhadap keberagaman menjadi bagian dari tugas kami," katanya.

Menghadapi dinamika keamanan global yang terus berkembang, Herry menjelaskan tantangan terbesar saat ini bukan hanya ancaman fisik, tetapi juga berbagai potensi risiko yang berkembang cepat, termasuk di ruang digital. "Kami mengedepankan deteksi dini, koordinasi lintas instansi, pertukaran informasi secara cepat, serta kesiapsiagaan yang terukur agar setiap potensi gangguan dapat diantisipasi sebelum berkembang menjadi masalah," jelasnya.

Menurut Gunung Sarasmoro, keberhasilan pengamanan Sidang Pleno XII FABC merupakan buah sinergi antara TNI, Polri, pemerintah, pemangku kepentingan di kawasan bandara, panitia FABC, Keuskupan TNI-Polri (OCI), serta seluruh unsur pendukung lainnya. "Tidak ada satu institusi pun yang dapat bekerja sendiri. Masing-masing menjalankan fungsi sesuai kewenangannya, tetapi memiliki tujuan yang sama, yakni memberikan rasa aman kepada seluruh peserta. Kolaborasi inilah yang menjadi wajah nyata semangat gotong royong Indonesia," ungkapnya.

Pengamanan juga diawali dengan pemetaan risiko secara menyeluruh, mulai dari identifikasi potensi kerawanan, penyusunan langkah mitigasi, hingga penyiapan rencana kontinjensi bagi seluruh agenda maupun tamu VIP. "Prinsip kami sederhana, setiap potensi risiko harus dikelola secara terukur sebelum berkembang menjadi ancaman nyata, dengan tetap menghormati kenyamanan dan privasi para tamu," kata Herry.

Lebih jauh, Gunung Sarasmoro menilai keberhasilan penyelenggaraan Sidang Pleno XII FABC menjadi bukti bahwa Indonesia mampu menjadi rumah bagi dialog lintas bangsa dan lintas agama. "Kehadiran para uskup dari berbagai negara yang dapat menjalankan seluruh kegiatan dengan aman dan nyaman menunjukkan Indonesia memiliki modal sosial yang kuat berupa toleransi, persaudaraan, dan semangat hidup berdampingan dalam keberagaman. Nilai inilah yang harus terus kita jaga," ujarnya.

Pendekatan humanis tanpa pengawalan berlebihan kawal sidang uskup se-Asia di Jakarta.

Read Entire Article
| | | |