jpnn.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan perbedaan angka garis kemiskinan Indonesia yang dirilis Bank Dunia.
Deputi Bidang Statistik Sosial BPS M Nashrul Wajdi menyampaikan angka yang disampaikan Bank Dunia tidak dihitung berdasarkan garis kemiskinan nasional Indonesia.
Bank Dunia dalam rilis terakhir menyebut sebanyak 64,2 persen penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan.
Angka tersebut berasal dari Macro Poverty Outlook edisi April 2026 dan merupakan proyeksi 2026 dengan menggunakan garis kemiskinan sebesar 8,30 dolar Amerika Serikat (AS) per kapita per hari berdasarkan Purchasing Power Parity (PPP) 2021.
“BPS mencatat persentase penduduk miskin Indonesia pada Maret 2026 sebesar 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta orang,” ujar Nashrul.
Nashrul menegaskan kedua angka tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung, karena disusun dengan standar kemiskinan yang berbeda dan ditujukan untuk kebutuhan yang berbeda pula.
“Garis kemiskinan tersebut dihitung nilainya ditetapkan berdasarkan standar kemiskinan yang umum digunakan di negara-negara dalam kelompok pendapatan menengah atas untuk membandingkan kondisi antarnegara,” ujar Nashrul.
Bank Dunia dalam rilis terbarunya menggunakan garis USD 3 per kapita per hari untuk mengukur kemiskinan ekstrem, USD 4,20 untuk negara berpendapatan menengah bawah, dan USD 8,30 untuk negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income countries/UMIC).









































