jpnn.com, JAKARTA - Partai Gerindra menegaskan bahwa intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto merupakan bagian dari strategi diplomasi aktif untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang makin kompleks.
Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, mengatakan pihaknya menghormati kritik yang disampaikan diplomat senior Dino Patti Djalal terkait frekuensi kunjungan luar negeri Presiden.
Namun, menurutnya, situasi global saat ini menuntut pendekatan diplomasi yang berbeda dibandingkan masa lalu.
"Kami menghormati pandangan Pak Dino sebagai diplomat senior. Namun, kita harus melihat konstelasi global hari ini yang sedang tidak baik-baik saja," kata Sugiat dalam keterangannya, Rabu (3/6/2026).
Dia menambahkan, di.tengah ketegangan geopolitik dunia, kehadiran Prabowo di panggung internasional bukan sekadar kunjungan kerja biasa, melainkan langkah proaktif untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mewarnai arah kebijakan global yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dalam negeri.
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI itu menilai lanskap hubungan internasional telah berubah sehingga diplomasi tidak lagi dapat dijalankan hanya melalui pendekatan konvensional.
Menurutnya, kehadiran langsung kepala negara menjadi instrumen penting dalam membangun pengaruh dan memperkuat posisi tawar Indonesia di tingkat global.
"Kehadiran fisik, jabat tangan langsung, dan dialog tatap muka antar-pemimpin negara adalah mata uang tertinggi dalam diplomasi modern," ujarnya.







































