jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa membela tingginya frekuensi kunjungan luar negeri (LN) Presiden Prabowo Subianto dengan menegaskan bahwa setiap pemerintahan memiliki strategi diplomasi yang berbeda.
Menanggapi kritik publik, Saan menyebut intensitas lawatan antar-presiden tidak bisa dibanding-bandingkan karena situasi geopolitik saat ini sangat dinamis dan mengharuskan Indonesia membangun hubungan internasional yang intensif serta serius.
"Presiden Prabowo memiliki cara tersendiri dalam membangun hubungan baik dengan negara-negara sahabat. Maka dari itu, strategi tiap pemimpin tentunya berbeda-beda," katanya di kompleks parlemen di Jakarta, Rabu, ketika merespons seputar kritik terkait frekuensi kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke LN.
Selain itu, lanjutnya, hal itu terkait dengan situasi dan perkembangan serta dinamika global, baik situasi yang ada di dalam negeri maupun juga situasi dan dinamika yang ada dalam konteks global.
Dia mengatakan bahwa intensitas kunjungan luar negeri Presiden tidak bisa dibandingkan antara satu dengan yang lainnya. Terlebih lagi, dia menilai, situasi hari ini mengharuskan Presiden membangun hubungan intensif dan serius.
"Karena terkait dengan kondisi di dalam maupun juga kondisi global yang memang dinamikanya sangat tinggi," kata dia.
Sebelumnya, Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyatakan alasan Presiden Prabowo Subianto cukup sering melakukan kunjungan luar negeri adalah untuk membangun hubungan yang kuat dengan para pemimpin dunia di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.
"Setiap pemimpin tentunya harus bangun hubungan yang dekat antarpemimpin dunia dan kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan, tidak. Kita harus panen hubungan yang baik, lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan dan begitu pula sebaliknya," kata Teddy.







































