jpnn.com, JAKARTA - Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai penguatan rupiah dipengaruhi respons positif pasar atas rencana pemangkasan kuota Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi secara signifikan pada 2027.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis, bergerak menguat 92 poin atau 0,52 persen menjadi Rp 17.748 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.840 per USD.
“Kebijakan tersebut berpotensi berdampak terhadap masyarakat pengguna BBM bersubsidi, terutama untuk jenis BBM Pertalite,” ucap Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.
Pengurangan subsidi BBM dinilai menjadi bagian dari langkah pemerintah untuk melakukan pengendalian subsidi.
Ibrahim menjelaskan dengan pemangkasan kuota hingga 58,5 persen, lanjutnya, masyarakat yang selama ini mengandalkan BBM bersubsidi berpotensi menghadapi pengetatan akses terhadap BBM subsidi.
Di sisi lain, pemerintah menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) sebesar USD 75 per barel pada 2027, masih berada di bawah harga minyak saat ini yang berada di kisaran USD 83 per barel.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pemerintah, mengingat BBM bersubsidi berkaitan langsung dengan biaya transportasi dan mobilitas masyarakat.
“Terlebih, pengguna Pertalite didominasi masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk aktivitas sehari-hari,” ungkap Ibrahim.









































