jpnn.com - Banyak yang mengira begitu Prabowo Subianto dilantik menjadi Presiden, kita hanya akan menyaksikan babak baru dari rutinitas politik yang biasa saja: pencitraan kosmetik, kalkulasi elektoral harian menyongsong 2029, kompromi transaksional demi menjaga stabilitas kekuasaan yang semu.
Politik semacam ini sudah jadi pemandangan lama di negeri ini.
Janji besar di panggung kampanye, lalu perlahan menguap jadi program-program tambal sulam begitu masuk musim survei berikutnya.
Namun dua tahun berjalan, anggapan itu pudar.
Yang sedang disajikan Prabowo melampaui politik biasa.
Ia sedang mempraktikkan apa yang dalam khazanah pemikiran politik klasik disebut statecraft, yaitu seni mengelola negara dengan kompas jangka panjang, bukan berdasarkan jajak pendapat mingguan sebagai dasar untuk memoles citra, popularitas, dan elektabilitas.
Niccolo Machiavelli, filsuf politik yang reputasinya kerap disalahpahami sebagai penganjur realisme politik dan kelicikan semata, sebenarnya sedang bicara soal hal yang lebih dalam: bagaimana seorang pemimpin menjaga eksistensi dan stabilitas negara di tengah dunia yang keras dan tidak bisa diprediksi.
Bagi Machiavelli, seorang penguasa yang baik harus memiliki virtù: kecakapan, keberanian, dan ketajaman insting untuk bertindak tegas demi kelangsungan negaranya, bahkan ketika tindakan itu tidak disukai rakyatnya sendiri dalam jangka pendek.









































