jpnn.com, ACEH - Pemerintah bersama TNI mempercepat proses perbaikan infrastruktur jembatan yang rusak pascabencana banjir yang melanda wilayah Aceh.
Langkah ini dilakukan guna memastikan mobilitas masyarakat dan distribusi logistik kembali berjalan normal.
Komandan Batalyon Zeni Tempur (Danyon Zipur) 16 Letkol CZI Rudy Haryanto menjelaskan bahwa berdasarkan data posko penanganan bencana, sedikitnya terdapat 492 jembatan di Aceh yang mengalami kerusakan atau terputus akibat banjir.
Kerusakan tersebut bervariasi, mulai dari jembatan permanen hingga jembatan gantung.
"Dari 492 ini kami memprioritaskan untuk jembatan-jembatan yang memang jembatan nasional ataupun jalan alternatif yang memang tercepat untuk dapat membuka jalan ke daerah yang saat ini dibilang terisolasi. Itu daerah Bener Meriah dan Takengon," kata Rudy dikutip dari keterangan tertulis Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Senin.
Rudy mengatakan proses pembangunan jembatan darurat tidak berjalan mudah. Banyak jembatan tertutup material banjir berupa kayu, puing rumah, bahkan ada yang hanyut sepenuhnya. Di sejumlah lokasi, ada jembatan yang masih berdiri, tetapi akses jalan menuju jembatan tergerus aliran sungai yang meluap.
"Seperti yang kami buat di Teupin Mane, di daerah Juli (Bireuen), sebelumnya sungai dengan kelebaran 120 menjadi 180 meter. Itu merupakan tantangan tersendiri untuk dapat, pertama membersihkan wilayah kerjanya dulu, setelah itu kita mempersiapkan untuk memasang jembatan darurat agar dapat menghubungkan jalan yang terputus itu," ujarnya.
Rudy menyampaikan bahwa setelah banjir terjadi pada 26 November, personel TNI di wilayah segera turun melakukan pemantauan. Begitu air mulai surut, jajaran Kodim setempat bersama masyarakat dan pemerintah daerah langsung melakukan pembersihan.














































