jpnn.com, JAKARTA - Implementasi kebijakan pendidikan terbaru terkait pembelajaran mendalam atau deep learning menjadi perhatian utama para praktisi pendidikan di Indonesia.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Sekolah Kesatuan Bangsa, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk Strategi dan Implementasi Pembelajaran Mendalam di Sekolah, pada Kamis, 23 April 2026.
Acara ini menjadi momentum krusial untuk membedah Permendikdasmen Nomor 13 Tahun 2025 yang menekankan pada pendekatan pembelajaran yang lebih integratif dan bermakna. Pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning merupakan satu rangkaian terintegrasi dengan standar kompetensi lulusan dan standar isi yang baru.
"Metode ini memungkinkan satu pokok bahasan dikaitkan dengan berbagai tema sejalan, bahkan lintas mata pelajaran. Menariknya, pendekatan ini sangat fleksibel karena dapat diterapkan baik oleh sekolah yang masih menggunakan Kurikulum 2013 maupun satuan pendidikan yang sudah mengadopsi Kurikulum Merdeka," ungkap anggota Tim Pengembang Pembelajaran Mendalam (TPPM) Kemendikdasmen RI, Prof. Suwarsih Madya M.A., Ph.D.
Prof Suwarsih hadir sebagai narasumber utama untuk mengupas tuntas konsep yang sering kali masih disalahpahami ini. Menurutnya, selama ini banyak sekolah yang baru sebatas menghadirkan fenomena schooling di mana kurikulum terselesaikan secara administratif, tetapi belum mencapai tahap learning yang sesungguhnya.
Dalam paparannya, Dia menekankan pentingnya pola pikir bertumbuh sebagai landasan utama sebelum memasuki aspek teknis. Prof Suwarsih juga menjabarkan tiga strategi kunci untuk keberhasilan implementasi di lapangan.
"Langkah pertama adalah menghormati dan mengenali potensi lingkungan, termasuk optimalisasi peran guru melalui komunitas belajar seperti MGMP dan pemanfaatan teknologi digital," ucapnya.
Langkah kedua, para pendidik diajak bersikap realistis bahwa tidak semua dimensi pembelajaran harus dicapai dalam setiap sesi, melainkan dapat didistribusikan pada mata pelajaran yang paling relevan. Strategi ketiga menempatkan kepala sekolah sebagai pemimpin strategis yang mampu mengarahkan pengembangan dimensi belajar sesuai dengan karakteristik kurikulum sekolah masing-masing.








































