jpnn.com, JAKARTA - Peneliti Senior Citra Institute, Efriza menilai kehadiran Wapres Gibran di Papua belakangan ini justru memanen kritik.
Dia mengatakan Posisi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai Ketua Badan Khusus Percepatan Pembangunan Papua (BP3OKP), seharusnya menjadi kunci strategis untuk menuntaskan berbagai persoalan di Bumi Cendrawasih.
Namun, menurutnya, aksi bagi-bagi buku dan alat tulis yang dilakukan wapres hanya bersifat humanis di permukaan, tetapi bukan solusi strategis yang dibutuhkan untuk menyelesaikan konflik.
"Masyarakat Papua, termasuk DPR Papua, mengharapkan kehadiran Wapres Gibran pada kunjungan berikutnya membawa kebijakan konkret terkait pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur, khususnya di Papua Tengah."
"Sejauh ini, kehadirannya belum memberikan kontribusi nyata yang bersifat substansial," kata Efriza kepada JPNN.com, Jumat (24/4).
Efriza menyayangkan posisi Gibran sebagai Ketua BP3OKP yang seolah tidak membawa misi kuat dari pemerintah pusat, terutama dalam hal intervensi kebijakan penanganan konflik.
Menurutnya, hal ini mengindikasikan bahwa pembangunan Papua belum sepenuhnya menjadi prioritas utama.
"Pembangunan Papua tidak akan pernah berjalan cepat jika kekerasan bersenjata terus terjadi. Stabilitas keamanan adalah prasyarat utama bagi investasi, infrastruktur, hingga pelayanan publik di sana," tegas Efriza.








































