jpnn.com - JAKARTA - Sejumlah kiai muda, pengasuh pesantren, akademisi, dan intelektual Nahdlatul Ulama (NU) yang tergabung dalam Halaqah Kiai Muda NU Solo Raya menyoroti melemahnya fungsi kepemimpinan ulama di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Hal itu mengemuka dalam Halaqah Kiai Muda NU bertema Meneguhkan Supremasi Moral dan Kepemimpinan Ulama dalam Dinamika NU Kontemporer yang digelar di Pondok Pesantren Al-Mustofa, Ngeboran, Sawit, Boyolali, Selasa (2/6).
Forum tersebut menghadirkan intelektual NU Ahmad Baso dan Pengasuh PPM Aswaja Nusantara Mlangi, Gus Mustafid, sebagai narasumber.
Ahmad Baso menilai fungsi kepemimpinan ulama dalam tubuh PBNU mengalami pelemahan. Dia mengingatkan pesan almarhum KH Ahmad Siddiq mengenai pentingnya menjaga organisasi tetap berada di jalur perjuangannya.
"KH Ahmad Siddiq pernah mengibaratkan NU seperti rel kereta api yang harus tetap berada pada jalurnya, bukan seperti taksi yang arah perjalanannya ditentukan sepenuhnya oleh sopir," kata Baso.
Menurut dia, organisasi harus berjalan berdasarkan prinsip dan sistem, bukan bergantung pada figur tertentu.
Baso menegaskan posisi Rois Aam memiliki peran strategis sebagai penjaga arah organisasi sekaligus otoritas moral tertinggi yang mampu memberikan koreksi terhadap berbagai penyimpangan, termasuk kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada umat.
Dia juga mengenang pengalaman saat diminta almarhum KH Sahal Mahfudh menyusun pidato iftitah dalam sebuah forum bersama pemerintah.







































