jpnn.com, BANDUNG BARAT - Garda Mawar menggelar dua kegiatan sosial dalam dua hari berturut-turut pada akhir Mei 2026. Komunitas sosial klub motor itu memperbaiki jalan sepanjang 350 meter di Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, yang putus akibat bencana longsor. Sebelum sehari sebelumnya menyerahkan plakat simbolis keberangkatan umrah kepada empat pengasuh Yayasan Bayi Sehat Muhammadiyah Bandung.
Bencana longsor yang melanda Pasirlangu beberapa waktu lalu tidak hanya merenggut puluhan nyawa, tetapi juga melumpuhkan akses jalan yang menjadi urat nadi perekonomian warga setempat. Kepala Desa Pasirlangu, Nur Awaludin Lubis, menyebutkan longsor itu menyebabkan 82 warga sipil meninggal dunia, sementara dari 23 personel TNI yang terlibat dalam penanganan bencana, delapan di antaranya hingga kini belum ditemukan.
Jalan yang rusak itu selama ini menjadi jalur utama mobilisasi hasil bumi, khususnya sayuran, dari Pasirlangu menuju pasar di luar desa. Dengan kondisi jalan yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua, petani setempat terpaksa mengangkut hasil panen dengan kapasitas terbatas, jauh dari optimal.
"Longsor di Pasirlangu ini selain memakan korban puluhan jiwa juga merusak infrastruktur jalan yang menjadi akses perekonomian masyarakat. Karena jalan terputus, masyarakat jadi kesulitan menjual hasil panennya," kata Ketua Umum Garda Mawar, Fauka Noor Farid, saat ditemui awak media di sela-sela kegiatan, Minggu (31/5).

Caption foto kiri-kanan: Ketum Garda Mawar Fauka Noor Farid, Kepala Desa Pasirlangu Nur Awaludin, dan Waketum Garda Mawar M Resqy F.R.
Fauka menuturkan bahwa Garda Mawar memiliki tim survei yang bergerak sebelum setiap kegiatan dilaksanakan. Tim inilah yang memantau kondisi lapangan dan menentukan kelayakan suatu daerah untuk menerima bantuan. Ketika informasi soal Pasirlangu masuk, tim segera turun dan memutuskan bahwa perbaikan jalan perlu segera dilakukan.
Sebanyak 37 anggota Garda Mawar diterjunkan dalam kegiatan tersebut, sebagian besar merupakan generasi muda. Fauka menyebut keterlibatan anak muda bukan sekadar tenaga tambahan, melainkan bagian dari proses edukasi langsung yang ia yakini jauh lebih efektif daripada ceramah semata.







































