Dari Gerilya ke Gelombang Radio: Jejak Nasionalisme Thayeb Mohammad Gobel di Dunia Industri

2 hours ago 13

 Jejak Nasionalisme Thayeb Mohammad Gobel di Dunia Industri

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Thayeb Mohammad Gobel. Foto: source for jpnn

jpnn.com, JAKARTA - Fenomena pengusaha yang merambah dunia politik bukan lagi hal yang mengejutkan dalam realitas politik Indonesia hari ini. Kursi parlemen hingga jabatan eksekutif kini kerap diisi oleh para pelaku instansi bisnis.

Namun, beberapa dekade lalu—ketika fondasi Republik baru saja diletakkan dan sektor industrinya nyaris belum ada—pilihan tersebut adalah jalan sunyi yang jarang dilalui orang.

Di tengah kekosongan komersial itulah, Thayeb Mohammad Gobel muncul. Ia tidak sekadar mendirikan sebuah imperium usaha, melainkan ikut memahat arah kemandirian ekonomi bangsa.

Di tahun-tahun pertama setelah pengakuan kedaulatan Indonesia, pemerintah masih sibuk menata seluruh lini kehidupan bernegara, termasuk sektor industri yang ditinggalkan Belanda. Terlebih setelah kebijakan nasionalisasi di era Sukarno, Indonesia dituntut untuk berdiri di atas kaki sendiri. Dalam situasi penuh keterbatasan itulah, Gobel mengambil peran merintis industri elektronika dari nol, sekaligus menapaki jalan politik sebagai seorang nasionalis.

Lahir di Gorontalo pada 12 September 1930, Gobel muda tumbuh dalam atmosfer pergolakan fisik. Pasca-proklamasi kemerdekaan, Belanda kembali datang dan membentuk Negara Indonesia Timur (NIT). Di masa-masa kritis tersebut, Gobel yang masih berstatus sebagai pelajar di Perguruan Sawerigading diam-diam mengambil risiko besar. Ia menjalin kontak erat dengan kelompok gerilya bentukan pahlawan nasional, Wolter Monginsidi.

Ramadhan K.H. dalam buku Gobel: Pelopor Industri Elektronika Indonesia dengan Falsafah Usaha Pohon Pisang (1994) mencatat: “...tidak ia lepaskan sama sekali hasratnya ikut berjuang. Secara diam-diam, gelap-gelapan, tanpa menonjolkan diri, ia mengadakan hubungan dengan kelompok Wolter Monginsidi.”

Semangat kebangsaan inilah yang kelak tidak pernah padam dalam dirinya. Ketika desing peluru berakhir, nasionalisme Gobel bertransformasi menjadi bentuk perjuangan baru: membangun kedaulatan negeri lewat jalur industrialisasi.

Selepas Konferensi Meja Bundar, Gobel memutuskan merantau ke Jakarta. Ia merintis karier dari bawah sebagai salesman di FASCO, sebuah perusahaan di kawasan Pasar Baru.

Fenomena pengusaha yang merambah dunia politik bukan lagi hal yang mengejutkan dalam realitas politik Indonesia hari ini.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |