jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel dan Iran yang memicu ancaman penutupan Selat Hormuz mulai menjadi perhatian serius bagi sektor perdagangan internasional di Indonesia. Meski jalur pelayaran di Teluk Persia tersebut sedang memanas, dampak langsung terhadap volume pengiriman komoditas ekspor dari wilayah DIY sejauh ini masih stabil.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman mencatat bahwa aktivitas ekspor ke Amerika Serikat, yang merupakan salah satu pasar utama produk lokal, belum menunjukkan penurunan angka pengiriman.
Bidang Perindustrian Disperindag Sleman Dwi Wulandari mengatakan produk unggulan seperti furnitur dan kerajinan tetap dikirimkan sesuai jadwal. Namun, ia tidak menampik adanya potensi pembengkakan biaya logistik di masa depan.
"Belum ada penurunan pengiriman ke Amerika. Namun, ketegangan di Selat Hormuz nantinya dinilai akan berdampak pada kenaikan biaya transportasi kapal," ujar Wulan, Selasa (10/3).
Pihak Disperindag Sleman berencana melakukan pengecekan kembali kepada para pelaku ekspor pascalebaran untuk memantau dinamika harga dan kendala distribusi yang mungkin muncul.
Menanggapi situasi global yang tidak menentu, Pemerintah DIY melalui Disperindag DIY mulai mengimbau para eksportir untuk tidak hanya bergantung pada satu jalur pelayaran. Selama ini, arus perdagangan Indonesia sangat mengandalkan lintasan Timur Tengah dan Terusan Suez.
Kepala Disperindag DIY Yuna Pancawati menyarankan para pengusaha mulai memikirkan rekayasa rute pengiriman guna menghindari area konflik.
Eksportir diminta mempertimbangkan rute pelayaran lain yang lebih aman meski risiko waktu tempuh mungkin berubah.







































