jpnn.com, JAKARTA - Analis politik dan hukum Boni Hargens menilai kehadiran Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo pada konsolidasi akbar Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) merrupakan sinyal kuat komitmen Polri terhadap pendekatan community policing dan paradigma Presisi sebagai katalisator keamanan di tengah dinamika hubungan industrial dan potensi aksi massa yang akan datang.
Dalam kesempatan tersebut, Kapolri menyampaikan pesan yang substansial mengenai pentingnya membangun konsolidasi yang melibatkan empat pihak utama: pemerintah, kalangan buruh, pengusaha, serta para pemilik kawasan industri.
Kapolri menekankan bahwa sinergi keempat pihak tersebut merupakan prasyarat fundamental untuk menciptakan komunikasi yang efektif dan menemukan solusi konkret atas berbagai persoalan yang kerap muncul dalam hubungan industrial di Indonesia.
Determinasi Kedekatan Polri dengan Sipil
Analis politik dan hukum Boni Hargens memberikan penilaian yang tegas dan positif terhadap langkah Kapolri yang hadir secara langsung dalam forum konsolidasi buruh tersebut.
Menurut Boni, kehadiran Jenderal Listyo Sigit Prabowo bukan sekadar formalitas atau protokoler semata, melainkan merupakan sebuah determinasi yang jelas tentang komitmen Polri untuk benar-benar dekat dengan masyarakat sipil.
Boni menyampaikan pandangannya melalui rilis media pada 11 September 2026, bahwa langkah Kapolri ini sekaligus membuktikan keberhasilan kepemimpinan Listyo Sigit dalam mewujudkan konsep community policing, yakni sebuah paradigma kepolisian yang menempatkan masyarakat sebagai mitra strategis, bukan semata objek pengamanan.
"Konsolidasi pengusaha, buruh, pemerintah, dan pemilik kawasan industri memang modal utama dalam menciptakan iklim ekonomi yang kondusif dalam dunia industri," ujar Boni.

















































