jatim.jpnn.com, PONOROGO - Sebanyak 54 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Kabupaten Ponorogo selama musim kemarau hingga 31 Agustus 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo mencatat total luas area yang terdampak kebakaran mencapai 189,11 hektare.
Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo Masun mengatakan puluhan kejadian tersebut tersebar di 13 kecamatan dan 38 desa. Area terdampak meliputi kawasan hutan, hutan rakyat, hingga lahan milik masyarakat.
“Beberapa wilayah yang cukup rawan antara lain Balong, Slahung, Jambon, Bungkal, dan Sambit. Masing-masing tercatat mengalami lebih dari empat sampai lima kejadian kebakaran,” kata Masun, Senin (7/9).
Menurut dia, kondisi cuaca yang kering selama musim kemarau meningkatkan risiko terjadinya kebakaran. Tiupan angin kencang serta banyaknya vegetasi kering membuat api lebih cepat merambat dan berpotensi meluas.
Karhutla tidak hanya mengancam ekosistem dan lahan produktif, tetapi juga dapat membahayakan keselamatan masyarakat serta menurunkan kualitas lingkungan di wilayah terdampak.
BPBD Ponorogo bersama TNI, Polri, relawan, dan masyarakat terus melakukan penanganan dan pemadaman setiap kali terjadi kebakaran. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah api meluas dan mengurangi dampak kebakaran terhadap lingkungan maupun masyarakat.
Masun mengimbau warga tidak membuka lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga diminta memastikan sumber api benar-benar padam setelah digunakan.













































