Palung Langit

1 hour ago 16

Oleh: Dahlan Iskan

Palung Langit

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Dahlan Iskan. Foto: dok JPNN.com

jpnn.com - Dalam satu minggu kemarin saya membaca dua ulasan buku baru, yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang tertentu. Saya pun tidak mampu membacanya: ditulis dalam bahasa Arab dengan tulisan tanpa harakat.

Hanya orang-orang yang ilmu nahwunya jagoan yang bisa melafalkan kalimat-kalimatnya dengan benar.

Penulisnya Anda sudah kenal: KH Miftachul Akhyar. Ia Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang baru terpilih untuk periode kedua di Muktamar Tambak Beras, Jombang bulan lalu: jabatan tertinggi di organisasi Islam terbesar di dunia itu.

Judul buku itu: Al-Fathatu al-Rabbaniyyah ‘ala al-Muqaddimah al-Ajurrumiyyah. Kurang lebih berarti "Penjelasan aspek Ketuhanan dalam kitab Muqaddimah Jurumiyah".

Nah, Anda sudah tahu apa itu kitab Jurumiyah. Semua santri pernah mempelajarinya: itu adalah buku dasar-dasar tata bahasa Arab. Penulisnya orang Maroko: Ibnu Ajjurum. Tapi jangan bayangkan seperti buku pelajaran tata bahasa. Formatnya kaidah-kaidah tata bahasa. Membacanya dilagukan: kataba-katabaa-katabuuu-katabat-katabata-katabna-katabta-katabtuma-katabtum ..... dan seterusnya. Satu kata "kitab" bisa berubah menjadi banyak kata bentukan.

Yang ditulis KH Miftachul Akhyar bukan buku tentang tata bahasa Arab. Yang ia tulis adalah "sisi ketuhanan" dari sebuah buku tata bahasa. Kalau sudah bicara sisi ketuhanan berarti sama dengan membahas "aspek tasawuf dari buku nahwu Jurumiyah". Mungkin satu-satunya: buku tata bahasa mengandung aspek ketuhanan.

Terbitnya buku ini tentu mengingatkan apa yang terjadi di Muktamar ke-35 NU. Utamanya setelah Rais Aam memberi sambutan pembukaan. Dalam sekejap saja video anak perempuan yang mengaku masih SD itu viral. Isinya: mengoreksi tata bahasa Arab yang digunakan oleh Rais Aam dalam pidatonya. Menurut anak itu setidaknya ada lima kesalahan tata bahasa dalam pidato itu. Berani sekali anak itu. Kok hebat: merasa lebih pandai dari Rais Aam PBNU.

"Apakah itu hoak? Video palsu? Buatan AI?" tanya saya kepada seorang alumni Timur Tengah yang juga angkatan muda NU.

Dalam satu minggu kemarin saya membaca dua ulasan buku baru, yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang tertentu. Saya pun tidak mampu membacanya.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |