jpnn.com, JAKARTA - Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Dr. dr. Arief Riadi Arifin, Sp.P(K), MARS, menyampaikan salah satu komponen yang menjadi perhatian utama bahaya akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutlan) adalah particulate matter (PM), khususnya PM2.5.
Dia menjelaskan partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan hingga mencapai bagian terdalam paru-paru.
“Makin kecil ukuran partikelnya, makin jauh pula penetrasinya ke dalam tubuh,” ujar dr. Arief, Sabtu (5/9).
Menurut dia, paparan tersebut dapat memicu proses peradangan dan stres oksidatif yang pada akhirnya berpotensi memengaruhi berbagai organ.
“Kalau partikelnya kecil, partikel bisa menembus lebih dalam bahkan sampai ke pembuluh darah. Dampaknya tentu akan berbeda,” jelas Arief.
Oleh karena itu, dia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap kabut asap karhutla sebagai persoalan lingkungan semata.
Arief menyebutkan asap karhutla merupakan campuran kompleks yang terdiri dari berbagai gas dan partikulat.
Kandungannya antara lain karbon monoksida (CO), karbon dioksida (CO2), nitrogen oksida (NOx), ozon, sulfur dioksida, serta partikulat dengan ukuran yang berbeda-beda.













































