jatim.jpnn.com, SURABAYA - Pengasuh Pondok Pesantren Nur Muhammad Surabaya KH Mas Muhammad Maftuh angkat bicara terkait polemik buku Islam Ala Prabowo: Cara Presiden Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam yang diluncurkan bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).
Gus Maftuh yang juga Ketua Umum Forum Komunikasi Kyai Kampung Indonesia (FK3I) meminta masyarakat membaca buku tersebut secara utuh dan proporsional.
Menurut dia, istilah 'Islam Ala Prabowo' tidak dimaksudkan untuk menciptakan mazhab, aliran, maupun bentuk Islam baru yang berbeda dari ajaran Islam yang dianut umat Muslim Indonesia.
“Jangan memahami buku ini hanya dari tiga kata, ‘Islam Ala Prabowo’, kemudian langsung menyimpulkan seolah-olah ada Islam baru atau mazhab baru. Maksudnya adalah bagaimana nilai-nilai Islam dipahami dan tercermin dalam kehidupan, sikap, serta kepemimpinan Prabowo,” ujar Gus Maftuh tertulis, Sabtu (5/9).
Dia menjelaskan buku tersebut mengupas dimensi keislaman Presiden Prabowo Subianto dari berbagai sisi, mulai kehidupan pribadi, perjalanan karier, hingga kepemimpinannya sebagai Presiden Republik Indonesia.
Buku itu juga menghimpun pandangan dan tulisan dari sejumlah tokoh agama, ulama, akademisi, politisi, serta tokoh nasional.
“Ini buku yang mencoba melihat sisi keislaman seorang pemimpin. Jadi yang dibicarakan bukan Islam sebagai agama yang baru, tetapi bagaimana nilai Islam seperti perdamaian, keadilan, persatuan, kepedulian kepada rakyat dan kemanusiaan dapat diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” katanya.
Gus Maftuh menilai kehadiran buku tersebut penting dalam konteks Indonesia sebagai negara yang memiliki masyarakat majemuk.










































