Darurat Konsumsi Gula Jadi Ancaman Kesehatan Gigi Masyarakat

3 hours ago 19

Darurat Konsumsi Gula Jadi Ancaman Kesehatan Gigi Masyarakat

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Head of Research & Development usmile Global, dr. Liu Jitao, Foto dokumentasi usmile

jpnn.com, JAKARTA - Tren konsumsi gula di Indonesia kini memasuki tahap mengkhawatirkan.

Berdasarkan data terbaru per 12 Mei 2026, rata-rata asupan gula harian masyarakat Indonesia menembus angka 62 hingga 75 gram. 

Angka ini melonjak jauh di atas anjuran Kementerian Kesehatan yang membatasi konsumsi gula maksimal 50 gram per hari.

Lonjakan asupan gula tersembunyi ini tidak hanya memicu penyakit sistemik seperti diabetes dan obesitas, tetapi juga memicu krisis kesehatan rongga mulut yang masif. 

Riset menunjukkan bahwa konsumsi manis berlebih meningkatkan risiko gigi berlubang atau karies hingga 2,8 kali lipat.

"Kerusakan gigi terjadi sangat cepat pasca mengonsumsi makanan manis. Dalam waktu 20 hingga 30 menit, bakteri Streptococcus mutans mengubah sisa gula menjadi asam yang mengikis enamel," kata Head of Research & Development usmile Global, dr. Liu Jitao, Rabu (13/5).

Lebih berbahaya lagi, bakteri tersebut mengubah gula menjadi glukan, sebuah senyawa lengket yang berfungsi sebagai "lem" bagi plak gigi.

Kondisi ini membuat sikat gigi mekanik dan pasta gigi konvensional sering kali gagal membersihkan sisa kotoran secara tuntas.

Head of Research & Development usmile Global, dr. Liu Jitao mengatakan, darurat konsumsi gula jadi ancaman kesehatan gigi masyarakat

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |