jatim.jpnn.com, LAMONGAN - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lamongan menetapkan status tanggap darurat bencana banjir akibat luapan Sungai Bengawan Jero setelah genangan meluas ke 28 desa dan berdampak pada 10.672 jiwa.
Sekretaris Daerah Kabupaten Lamongan Moh. Nalikan mengatakan, penetapan status tanggap darurat dilakukan menyusul meningkatnya tinggi muka air di Bendungan Blawi yang mencapai 78 sentimeter pada papan duga.
“Status tanggap darurat kami berlakukan karena kenaikan tinggi muka air Bendungan Blawi dan menggenangi puluhan desa di enam kecamatan. Kami memerlukan penanganan terpadu lintas sektor,” kata Nalikan, Rabu (14/1).
Berdasarkan data terbaru, banjir tercatat merendam 2.736 rumah warga di kawasan Bengawan Jero. Genangan air juga mengganggu aktivitas masyarakat serta sejumlah fasilitas umum.
Sebagai langkah penanganan, Pemkab Lamongan melakukan penyisiran dan pembersihan alur sungai, mengoptimalkan operasional pompa air, serta menginstruksikan desa-desa terdampak untuk mendirikan posko kesehatan siaga 24 jam.
“Posko kesehatan wajib dibentuk oleh puskesmas, maupun bidan desa agar pelayanan kesehatan warga terdampak tetap berjalan,” ujarnya.
Selain itu, Pemkab Lamongan menyalurkan bantuan kebutuhan pokok secara bertahap dan mengajukan pencairan 22 ton beras cadangan pangan ke Badan Ketahanan Pangan Nasional melalui Bulog.
"Kami juga mengarahkan sekolah yang terdampak banjir agar melaksanakan pembelajaran secara daring dan menyiagakan armada truk untuk membantu mobilitas warga, khususnya pelajar saat melintasi wilayah yang masih tergenang," tutur Nalikan. (antara/mcr12/jpnn)











































