jpnn.com - Hari-hari ini, kecemasan sedang menggelayuti kantor pusat Jaguar Land Rover (JLR) di Inggris.
Raksasa otomotif yang selama ini menjadi simbol kemewahan Britania itu harus mengambil keputusan pahit: memangkas 4.000 karyawannya dalam dua tahun ke depan.
Bagi ribuan pekerja, kabar buruk itu tak lagi berjarak. Hanya dalam hitungan hari, selembar surel pemberitahuan akan mendarat di kotak masuk mereka.
JLR mencoba memperhalus pukulan ini dengan menawarkan skema pengunduran diri secara sukarela hingga 4 Oktober mendatang.
Pimpinan perusahaan, PB Balaji, berjanji akan mengawal proses penderitaan ini dengan rasa hormat dan keadilan.
Namun, di balik bahasa korporat yang santun, ada realita keras yang tak bisa ditutupi.
JLR sedang terdesak hebat dan harus menghemat biaya hingga £1,7 miliar demi bertahan hidup.
Industri otomotif memang sedang tidak ramah. JLR kejepit di berbagai lini.

















.jpeg)






























