jogja.jpnn.com, SLEMAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman mengintensifkan berbagai upaya mitigasi bencana, baik secara struktural maupun nonstruktural. Langkah ini diambil menyusul masih tingginya aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang kini bertahan pada status Level III (Siaga).
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman Bambang Kuntoro mengatakan tingginya dinamika vulkanik Merapi ditandai dengan guguran material yang menembus angka hingga 120 kali per hari serta luncuran awan panas secara berkala.
Kondisi Siaga Darurat ini menuntut kesiapsiagaan penuh sebelum potensi risiko meningkat ke tahap Tanggap Darurat.
?"Merapi saat ini dalam kondisi Siaga Darurat. Aktivitasnya masih dinamis dengan puluhan hingga ratusan guguran setiap hari. Oleh karena itu, langkah mitigasi kebencanaan terus kami optimalkan sebelum potensi risiko berkembang ke tingkat Tanggap Darurat saat terjadi kenaikan status," kata Bambang, Jumat (4/9).
Dalam aspek mitigasi struktural, BPBD Sleman memfokuskan tindakan pada perbaikan infrastruktur evakuasi dan penguatan sistem peringatan dini.
BPBD membenahi infrastruktur, misalnya melebarkan dan memperbaiki jalan evakuasi, penanganan tebing rawan longsor di sepanjang rute pengungsian, serta pemantauan kondisi dam sabo yang dilalui kendaraan berat.
BPBD juga melakukan pemeliharaan berkala terhadap 37 unit Early Warning System (EWS) yang terpasang, meliputi 34 unit di kawasan lereng Merapi dan 3 unit di wilayah Prambanan untuk pemantauan luapan air.
Selain itu, Bambang mengatakan pihaknya telah rutin merawat sirene, CCTV pengawas, mempersiapkan barak pengungsian, hingga pemenuhan logistik pangan, nonpangan, serta stok masker antidebu.





































