jpnn.com, JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat di wilayah terdampak abu vulkanis Gunung Anak Krakatau untuk membatasi aktivitas di luar rumah.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau yang berstatus siaga (level III) dan berlangsung terus-menerus sejak Jumat (4/9).
Paparan abu vulkanis terdeteksi menyebar ke wilayah Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat akibat embusan angin. Menkes Budi menjelaskan intensitas abu vulkanik yang tinggi berisiko memicu gangguan kesehatan akut, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), iritasi mata, dan gangguan pada kulit.
Kelompok anak-anak, lanjut usia, serta penderita penyakit pernapasan dan kardiovaskular kronis menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampak paparan abu vulkanik.
"Kalau tidak ada kegiatan mendesak, usahakan tetap di dalam rumah. Namun, jika harus keluar, pastikan selalu menggunakan masker dan kaca mata," ujar Menkes Budi dalam konferensi pers Situasi dan Kondisi Pascaerupsi Gunung Anak Krakatau secara daring, Minggu (6/9).
Menkes Budi juga memberikan instruksi terkait penanganan awal apabila warga terpapar abu vulkanik, terutama pada area sensitif seperti mata dan kulit.
“Kalau debu sudah masuk ke mata, jangan dikucek. Bersihkan dengan air dan bila perlu gunakan obat tetes mata. Semua puskesmas sudah kami siapkan untuk menangani kondisi tersebut,” ujar Budi.
Dia juga menyarankan warga segera membersihkan tubuh dan pakaian setelah beraktivitas di luar rumah karena partikel abu vulkanis bersifat tajam.















































