Thomas Cup 2026 Jadi Tamparan Keras bagi Indonesia, Sistem Pembinaan Disorot Tajam

2 hours ago 19

Thomas Cup 2026 Jadi Tamparan Keras bagi Indonesia, Sistem Pembinaan Disorot Tajam

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Skuad beregu putra-putri Indonesia pada ajang Thomas dan Uber Cup 2026 saat berlatih di Horsens, Denmark, Selasa (28/4) malam WIB. Foto: Humas PP PBSI

jpnn.com - Kegagalan tim beregu putra Indonesia pada Thomas Cup 2026 membuat banyak pihak angkat suara.

Pengamat bulu tangkis Tanah Air Erly Bahtiar menilai akar kegagalan Fajar Alfian dan kolega bersumber dari proses pembinaan yang belum berjalan optimal.

Menurutnya, kondisi di lapangan saat ini belum memberikan banyak keuntungan bagi pebulu tangkis muda untuk mendapatkan kesempatan menembus Pelatnas Cipayung.

Sejumlah bibit muda potensial bahkan lebih memilih bergabung dengan klub besar ketimbang menjalani proses pembinaan dari awal hingga menjadi pemain nasional.

"Masalah perekrutan atlet harus dikaji ulang lagi. Saat ini banyak pemain muda yang berada di klub kecil sering direkrut ke tim-tim besar."

"Hal tersebut membuat persaingan antarpemain justru terkonsentrasi di klub tertentu,” ujar Erly saat dihubungi JPNN.com, Rabu (29/4).

Jebolan Tabloid Bola itu berharap klub-klub besar mulai fokus mencetak atlet binaan sendiri agar dapat melahirkan pemain berkualitas untuk Pelatnas Cipayung.

Dengan demikian, pembinaan di level akar rumput dapat makin berkembang dan menciptakan persaingan yang lebih merata di antara para atlet.

Pengamat bulu tangkis Tanah Air, Erly Bahtiar serukan pembenahan sistem pembinaan tepok bulu Tanah Air seusai kegagalan tim beregu putra di Thomas Cup 2026

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |