Ray Rangkuti Sebut Ada Indikasi ‘Kudeta Merambat’ di Indonesia, Begini Penjelasannya

1 hour ago 12

Ray Rangkuti Sebut Ada Indikasi ‘Kudeta Merambat’ di Indonesia, Begini Penjelasannya

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia Ray Rangkuti (Kiri) saat diskusi publik berjudul ”Militer, Bisnis, dan Politik: Pelajaran dari Kudeta Militer di Berbagai Negara”, pada Rabu, 8 Juli 2026 di Jakarta Pusat. Foto: Source for JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Direktur Eksekutif Lingkar Madani Indonesia Ray Rangkuti mengatakan membaca tren dan data yang berkembang terakhir, Indonesia sangat sulit dilakukan ”kudeta militer” yang gaya klasik seperti yang terjadi di beberapa negara lainnya seperti Myanmar, Nigeria, Gabon, Turki, dan sejumlah negara lainnya.

Kendati demikian, Ray mengingatkan akan bahaya ”kudeta merambat” yang terindikasi sedang berlangsung di Indonesia.

”Kudeta dalam era modern disebut kudeta merambat. Ia berbeda dengan pengertian kudeta yang selama ini kita kenal. Maksud dari kudeta model ini yakni memasuki instrumen-instrumen negara lalu mengusainya, tanpa sama sekali menggunakan senjata. Mereka seharusnya tidak berada di sana”, jelas Ray Rangkuti, Direktur LIMA Indonesia, dalam diskusi publik berjudul ”Militer, Bisnis, dan Politik: Pelajaran dari Kudeta Militer di Berbagai Negara” pada Rabu, 8 Juli 2026 di Jakarta Pusat.

Menurutnya, kondisi kita pada hari ini bukan lagi militerisasi, melainkan militerisme. Sebuah gejala yang semakin naik. Gejalanya, kata dia, ditandai melalui beberapa hal.

”Militerisasi itu sebatas penempatan militer di ruang sipil yang tidak punya landasan hukum atau kebijakan. Sedangkan militerisme adalah sebuah paham yang menganggap militer yang paling hebat. Indonesia sudah masuk pada fase militerisme” ujar Ray.

Bahkan, jelas Ray, karena adanya cara pandang militer yang paling hebat, maka militer yang paling unggul. Karena cara pandang militer yang paling unggul maka seluruh hal diukur dengan cara pandang militer itu sendiri.

Diia mencontohkan, kalau mau disiplin harus disiplin ala militer, kalau mau punya karakter harus karakter ala militer, kalau mau beretika harus beretika ala militer, kalau mau disebut bela negara bela negaranya ala militer. ”Kondisi kita sekarang, semua standarnya standar militer”.

”Kalau semua hal harus diukur dengan cara pandang dan standar militer itulah ”isme” atau paham” kata dia.

Ray Rangkuti mengatakan membaca tren dan data yang berkembang terakhir, Indonesia sangat sulit dilakukan kudeta militer, tetapi ada indikasi..

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |