jpnn.com, JAKARTA - Pengamat politik Efriza menilai pemilihan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) ke depan sebaiknya tidak lagi semata-mata didasarkan pada latar belakang pendidikan Akademi Kepolisian (Akpol), melainkan mengedepankan rekam jejak, kompetensi, dan kepercayaan Presiden.
Menurut Efriza, transformasi menuju Polri yang modern membutuhkan perubahan perspektif dalam menentukan figur pemimpin.
DIa menilai pengalaman kepemimpinan dan kemampuan manajerial lintas sektor menjadi aspek yang semakin penting.
"Akpol bukan lagi faktor penentu, melainkan hanya salah satu bagian dari profil seorang kandidat," ujar Efriza, yang juga dosen di sejumlah perguruan tinggi.
Dia mengatakan pengalaman di bidang hukum maupun penugasan di birokrasi sipil dapat menjadi nilai tambah bagi calon Kapolri.
Kemampuan tersebut dinilai menunjukkan kapasitas kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan kelembagaan yang semakin kompleks.
Efriza menyebut salah satu kriteria penting bagi calon Kapolri adalah memiliki orientasi hukum yang kuat.
Menurutnya, latar belakang akademik di bidang hukum, pengalaman panjang di fungsi reserse, serta pemahaman terhadap tata kelola penegakan hukum dapat mendukung reformasi kepolisian.









































