jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) merilis laporan terbaru terkait aktivitas Gunung Merapi untuk periode pengamatan Kamis (10/09/2026). Hingga saat ini, status Gunung Merapi masih dipertahankan pada Level III (Siaga).
Kepala BPPTKG Agus Budi Santoso menyampaikan bahwa aktivitas vulkanik di dalam tubuh gunung masih terus berlangsung.
"Berdasarkan data pemantauan terbaru, suplai magma hingga saat ini masih berlangsung. Kondisi ini berpotensi memicu terjadinya awan panas guguran di dalam wilayah potensi bahaya yang telah ditetapkannya," ujar Agus Budi Santoso dalam keterangannya, Jumat (11/9).
Selama 24 jam masa pengamatan, teramati adanya guguran lava sebanyak tujuh kali yang mengarah ke sektor Barat Daya, tepatnya menuju Kali Sat/Putih dan Kali Krasak, dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.
Asap kawah bertekanan lemah juga teramati berwarna putih tipis dengan tinggi sekitar sepuluh meter di atas puncak.
Selain itu, BPPTKG mencatat aktivitas kegempaan yang cukup signifikan:
- Gempuran Guguran: 99 kali (Amplitudo: 2–33 mm, Durasi: 30,9–209,99 detik)
- Hybrid/Fase Banyak: 67 kali (Amplitudo: 2–35 mm)
- Vulkanik Dangkal: 23 kali (Amplitudo: 3–80 mm)
- Tektonik Jauh: 1 kali (Amplitudo: 7 mm)
Secara meteorologi, cuaca di seputar Gunung Merapi terpantau bervariasi dari cerah, berawan, hingga mendung dengan angin bertiup lemah ke arah barat. Suhu udara berkisar antara 15.1–26.7 derajat Celsius.
Mengingat potensi bahaya yang masih tinggi, Kepala BPPTKG mengingatkan masyarakat agar mematuhi zona aman dan tidak melakukan aktivitas apa pun di wilayah rawan.













































