jpnn.com - Delapan puluh satu tahun setelah Bung Karno memperkenalkan Pancasila pada 1 Juni 1945, pertanyaan yang layak kita ajukan bukanlah apakah kita masih menghafal lima silanya, melainkan apakah nilai-nilainya sungguh hadir dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pancasila tidak membutuhkan lebih banyak pujian. Yang dibutuhkannya adalah keberanian untuk menjadikannya pedoman dalam setiap kebijakan, keputusan, dan tindakan.
Setiap tahun Hari Lahir Pancasila diperingati melalui berbagai upacara dan seremoni.
Namun, peringatan itu akan kehilangan makna apabila tidak menjadi momentum evaluasi nasional.
Pancasila bukan sekadar dasar negara, melainkan kompas moral yang seharusnya mengarahkan pembangunan, hukum, politik, dan ekonomi agar tetap berpihak kepada kepentingan rakyat.
Momentum refleksi itu menjadi penting ketika kita menyaksikan berbagai persoalan yang masih dihadapi bangsa ini.
Di Papua, pembangunan terus berjalan dengan tujuan mempercepat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Namun, pada saat yang sama muncul kekhawatiran mengenai kerusakan lingkungan dan berkurangnya kawasan hutan yang selama ini menjadi bagian penting kehidupan masyarakat adat.

















.jpeg)




















