Indonesia Perlu Membaca Tekanan Ekonomi Secara Lebih Jernih dan Seimbang

4 hours ago 15

Indonesia Perlu Membaca Tekanan Ekonomi Secara Lebih Jernih dan Seimbang

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Azis Subekti. Foto: Source for JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Azis Subekti menilai Indonesia perlu membangun cara pandang yang lebih jernih dalam membaca kondisi ekonomi nasional. Menurutnya, situasi ekonomi saat ini tidak bisa disederhanakan menjadi sekadar baik atau buruk.

Azis mengatakan dalam beberapa waktu terakhir, ruang publik kerap terbelah dalam dua cara pandang ekstrem. Sebagian pihak menilai pelemahan rupiah dan koreksi pasar saham sebagai tanda Indonesia menuju krisis. Sebaliknya, sebagian pihak lain melihat pertumbuhan ekonomi dan indikator makro yang relatif baik sebagai tanda bahwa tidak ada masalah serius.

Menurut Azis, kedua pandangan tersebut sama-sama tidak utuh.

“Indonesia tidak sedang baik-baik saja dalam arti tanpa tantangan. Tetapi Indonesia juga tidak sedang menuju kehancuran. Yang kita hadapi adalah situasi kompleks yang membutuhkan pembacaan jernih,” ujar Azis.

Ia menjelaskan Indonesia masih memiliki fondasi ekonomi yang kuat. Pertumbuhan ekonomi tetap berada di sekitar 5 persen, inflasi relatif terkendali, defisit fiskal masih dalam koridor aman, cadangan devisa kuat, neraca perdagangan mencatat surplus, dan status investment grade tetap terjaga.

Namun, Azis juga mengingatkan bahwa tekanan ekonomi tetap nyata. Rupiah menghadapi tekanan, IHSG mengalami koreksi, sebagian sektor usaha melambat, konsumsi kelas menengah lebih hati-hati, biaya logistik masih tinggi, dan produktivitas nasional perlu diperkuat.

Azis menilai, tekanan tersebut juga dipengaruhi perubahan besar dalam ekonomi global. Ketegangan geopolitik, perlambatan perdagangan dunia, ketidakpastian harga energi, suku bunga global yang tinggi, serta pergerakan modal internasional turut memengaruhi banyak negara berkembang, termasuk Indonesia.

Ia juga menekankan pentingnya membaca pasar keuangan secara lebih utuh. Menurutnya, keluarnya dana asing dari sebagian saham Indonesia tidak otomatis berarti investor kehilangan kepercayaan. Pada saat yang sama, investor global masih membeli Surat Berharga Negara dan instrumen pendapatan tetap Indonesia.

Rupiah menghadapi tekanan, IHSG mengalami koreksi, sebagian sektor usaha melambat, konsumsi kelas menengah lebih hati-hati, biaya logistik masih tinggi.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |