jatim.jpnn.com, SURABAYA - Suasana hangat dan penuh tawa mewarnai Pasar Burung Dolly, RW 12 Kelurahan Putat Jaya, Surabaya, saat puluhan anak mengikuti pelatihan membatik dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, Sabtu (26/7).
Sebanyak 40 anak didampingi orang tua dan sukarelawan menyusun pola batik menggunakan canting cap berbahan limbah kertas dan kayu. Mereka mengikuti setiap tahapan dengan antusias, mulai dari menyusun pola, mengecap kain, mewarnai, hingga menyaksikan motif batik muncul setelah proses nglorot.
Sesekali terdengar celetukan polos dari anak-anak yang tak sabar ingin mencoba.
"Sudah boleh dicoba belum, Bu?" tanya salah seorang peserta yang langsung disambut tawa para pendamping.
Sulit membayangkan kawasan yang dahulu dikenal sebagai lokalisasi terbesar di Asia Tenggara itu kini berubah menjadi ruang belajar dan kreativitas bagi anak-anak.
Pasca-penutupan lokalisasi oleh Pemerintah Kota Surabaya, berbagai kegiatan pendidikan, seni, dan pemberdayaan masyarakat mulai tumbuh di kawasan Gang Dolly, termasuk melalui Kelompok Usaha Bersama (KUB) Genarta yang mengembangkan batik cap.
Dalam kegiatan tersebut, KUB Genarta berkolaborasi dengan Universitas Kristen Petra memperkenalkan Cantikyu, inovasi canting cap ramah lingkungan berbahan limbah kertas dan kayu yang dikembangkan sebagai media edukasi.
Program itu merupakan bagian dari uji publik produk Hilirisasi Sinergi 2026 yang digagas tim dosen lintas disiplin UK Petra, yakni Dr. Aniendya Christianna, Astri Yogatama, dan Dean Charlos Padji Dogi.








































