jpnn.com - JAKARTA - Lembaga kajian Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) merespons keputusan Amerika Serikat memblokade akses pelabuhan Iran setelah perundingan Washington dan Teheran gagal mencapai kesepakatan.
Kebijakan blokade ini diproyeksikan akan menghambat distribusi minyak mentah dan minyak hasil kilang hingga mencapai 20 juta barel per hari.
Kondisi tersebut dikhawatirkan menjadi pemicu kenaikan harga minyak dunia hingga kembali menembus angka USD 100 per barel.
Pakar energi Indonesia sekaligus Board of Experts Prasasti Arcandra Tahar menilai perkembangan ini menunjukkan makin dominannya dampak geopolitik dalam menentukan akses terhadap energi global.
Menurut Archandra, ketegangan antarnegara saat ini berdampak langsung pada peta distribusi energi dunia. Dia menekankan penguatan diplomasi menjadi instrumen krusial bagi setiap negara dalam menjaga stabilitas pasokannya.
“Diplomasi energi merupakan ‘pintu pembuka’ bagi keamanan energi suatu negara. Melalui hubungan antarpemerintah atau government-to-government diplomacy, Indonesia dapat membangun aliansi politik tingkat tinggi yang memungkinkan akses langsung terhadap aset energi strategis di berbagai negara,” kata Arcandra dikutip dari siaran pers, Kamis (16/4).
Arcandra menjelaskan sebagian besar sumber daya energi, khususnya yang berada di kawasan Timur Tengah, membutuhkan dukungan hubungan antarnegara agar dapat diakses secara optimal. Hal ini menjadi kunci untuk menembus hambatan birokrasi dan politik di wilayah tersebut.
Dalam situasi krisis seperti saat ini, koordinasi antarpemerintah menjadi faktor penting untuk membuka peluang kerja sama baru.








































