jpnn.com, JAKARTA - Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid, mengingatkan radikalisasi di ruang digital tidak selalu dimulai dengan ajakan melakukan kekerasan.
Proses tersebut bisa berawal dari interaksi sederhana, bantuan personal, percakapan dalam permainan daring, hingga rekomendasi konten yang terus berulang karena kerja algoritma.
“Ketika kekuatan narasi di era digital bergabung dengan kekuatan algoritma untuk sesuatu yang buruk, dampaknya akan termultiplikasi,” ujar Meutya dalam Diskusi Publik dan Bedah Buku Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi hingga Manipulasi Kesadaran di Studio 2 Menara Kompas, Jakarta, Rabu, (29/7).
Menurut Meutya, perpaduan narasi ekstrem dan algoritma dapat menciptakan ilusi bahwa informasi yang terus muncul di layar merupakan kebenaran.
Fakta kemudian kalah oleh emosi, keyakinan, dan paparan berulang yang membentuk situasi post-truth dan proses radikalisasi tidak terjadi secara instan.
Pendekatan dapat dimulai dari uluran tangan, pemberian bantuan, pengobatan, pelunasan utang, hingga janji memperoleh pendidikan atau kehidupan yang lebih baik.
Setelah kepercayaan korban terbentuk, jaringan mulai memasukkan narasi ideologis dan mengarahkan korban pada tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan.
Meutya juga meminta orang tua mencermati perubahan pola komunikasi anak. Dampak paparan konten berbahaya tidak selalu terlihat dalam satu atau dua hari, tetapi dapat terbentuk perlahan selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.











































