jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla melanda sejumlah pulau besar di Indonesia.
Karhutla di Pulau Kalimantan bahkan mendapatkan sorotan dari Singapura dan Malaysia yang menyebabkan asap dan kualitas udara memburuk di negeri jiran tersebut.
Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Priyono Suryanto menyarankan tiga transformasi strategis yang perlu dilakukan dalam penanganan karhutla.
Menurut Priyo, pentingnya upaya pencegahan yang harus mempertahankan kontinuitas, integrasi, dan daya hidupnya setelah situasi darurat berakhir.
“Padahal risiko kebakaran tidak pernah benar-benar hilang. Kerentanan terus berkembang melalui kondisi gambut, aktivitas ekonomi, perubahan penggunaan lahan, iklim dan dinamika sosial. Oleh karena itu, pencegahan harus menjadi ekosistem penjagaan yang berkelanjutan,” katanya.
Tiga transformasi strategis tersebut, pertama, mengubah ekosistem gotong royong krisis menjadi ekosistem gotong royong penjagaan hutan. Kedua, mengubah berbagai pengalaman menjadi memori strategis nasional. Ketiga, mengubah ketahanan reaktif menjadi ketahanan antisipatif.
"Ketangguhan sendiri berarti kemampuan membaca risiko lebih dini, mengurangi kerentanan, menjaga fungsi ekosistem, dan bertindak sebelum ancaman berubah jadi bencana,” ujarnya.
Menurutnya, setiap kejadian karhutla seharusnya menghasilkan peningkatan kapasitas pengetahuan dan perbaikan sistem penanganan.
Indonesia dinilai memiliki modal yang kuat pada kemampuan gotong royong ketika terdapat krisis. (mcr25/jpnn)





































