jpnn.com, PONTIANAK - Menteri Kehutanan Raja Antoni meminta proses pendinginan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat dimasifkan demi mencegah ancaman kabut asap yang masih mengintai.
"Harus ada gerakan yang masif untuk melakukan pendinginan. Ini sekarang sedang dilakukan pendinginan," kata Raja Antoni menyampaikan hal itu saat kembali meninjau langsung lokasi kebakaran hutan dan lahan di Desa Kuala Dua, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Kamis.
Dalam peninjauan tersebut, Menhut melihat proses pemadaman dan pendinginan yang dilakukan personel Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan di lokasi kebakaran.
Dia mengatakan, berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla Sipongi milik Kementerian Kehutanan, jumlah titik panas di Kalimantan Barat mengalami fluktuasi dalam beberapa hari terakhir.
"Pada 31 Agustus tercatat 272 titik panas, kemudian meningkat menjadi 859 titik pada 1 September dan kembali menurun menjadi 268 titik pada hari berikutnya," tuturnya.
Menurut Raja Antoni, penurunan jumlah titik panas tidak serta-merta menunjukkan persoalan karhutla telah berakhir karena api yang telah padam tidak lagi terbaca dalam sistem pemantauan, sementara asap masih dapat bertahan.
"Api padam tidak terbaca sebagai hotspot di Sipongi, namun itu tidak berarti bahwa tidak ada asap. Teman-teman sendiri lihat, tidak lagi ada hotspot di sini tapi asapnya terus eksis," katanya.
Karena itu, ia meminta Manggala Agni, jajaran Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, BPBD dan seluruh unsur terkait tidak hanya berfokus menekan jumlah titik panas, tetapi juga memperkuat operasi pendinginan.








































