jpnn.com, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) memaparkan analisis dampak ekonomi akibat bencana gempa bumi di NTT dan Karhutla (kebakaran hutan dan lahan) di Kalimantan.
Bencana alam di tingkat lokal ini berpengaruh terhadap Indeks Harga Konsumen (IHK), karena mengganggu rantai pasok wilayah.
Fasilitas pasar yang rusak serta jalur logistik utama yang terhambat menjadi indikator utama dalam memotret guncangan ekonomi daerah.
Di wilayah Kalimantan, kabut asap akibat kebakaran lahan berdampak pada penurunan kualitas udara yang memicu penyakit ISPA.
Kondisi tersebut secara langsung menurunkan produktivitas kerja masyarakat serta mengganggu aktivitas belajar mengajar di sekolah.
Sebanyak lima provinsi di Kalimantan mencatatkan inflasi bulanan bervariasi, dengan tertinggi di Kalimantan Selatan sebesar 0,24 persen.
"Dampak seperti terjadinya lokal tadi ada bencana alam terhadap IHK ini sangat bergantung tentunya sejauh mana kejadian tersebut mengganggu di pasokannya atau di supply chain-nya," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono di kantornya, baru-baru ini.
Sementara itu, wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) secara umum justru mencatatkan deflasi sebesar 0,40 persen pada Agustus 2026.








































