jpnn.com - KABUPATEN TANGERANG - Para akademisi, praktisi, dan regulator ekonomi Islam berkumpul dalam simposium internasional bertema “Ethical Wealth & Social Impact” di Menara Syariah PIK2, Tangerang, Rabu (11/2/2026).
Salah satu bahasan dalam simposium itu ialah membedah cara menguatkan upaya memperoleh kekayaan dengan berlandaskan etika di tengah meningkatnya ketimpangan sosial dan krisis kepercayaan terhadap praktik bisnis global.
Simposium hasil kerja sama Menara Syariah PIK2 dan Universitas Tunku Abdul Rahman (UTAR) Malaysia itu menampilkan sejumlah pembicara, antara lain, Deputi Direktur Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia (DEKS BI) Moh Nuryazidi, Wakil Sekretaris Badan Wakaf INdonesia (BWI) Emmy Hamidiyah, Ketua Badan Pengurus Lazismu Pimpinan Pusat Muhammadiyah Ahmad Imam Mujadid Rais, Wakil Rektor Tazkia University Yaser Taufik Syamlan, Guru Besar Ekonomi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Nur Hidayah, dan Ketua BAZNAS Provinsi Banten Prof. Dr. Wawan Wahyudin.
Adapun akademisi UTAR yang menjadi pembicara dalam simposium itu ialah Dr. Nurul Afidah, Dr. Tan Lian, Puan Nurul Ikma, dan Dr. Kuah Yoke Chin.
Diskusi dalam simposium itu tidak hanya membicarakan soal pertumbuhan ekonomi, tetapi juga bagaimana kekayaan harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Secara global, tren investasi berdampak (impact investing) terus berkembang.
Dalam konteks ekonomi syariah, pendekatan ini telah lama dikenal melalui instrumen zakat, wakaf, sukuk sosial, dan berbagai bentuk filantropi Islam yang diarahkan untuk pendidikan, kesehatan, UMKM, hingga pelestarian lingkungan.
Komisaris Utama Menara Syariah PIK2 Harianto Solichin menyatakan bahwa menjadi kaya bukanlah persoalan selama ditempuh dengan cara yang benar.












































