jatim.jpnn.com, SURABAYA - Ketua TP PKK Kota Surabaya Rini Indriyani menyoroti tantangan baru yang dihadapi perempuan dan generasi muda di era digital, termasuk fenomena FOMO (fear of missing out) yang dinilai dapat memengaruhi pembentukan jati diri.
Menurutnya, tekanan untuk selalu mengikuti tren membuat sebagian anak muda kehilangan arah dalam mengenali potensi dirinya.
“Setiap anak punya potensi berbeda. Jangan memaksakan diri mengikuti orang lain. Justru keunggulan muncul ketika seseorang mengenali dan mengembangkan dirinya sendiri,” ujar Rini, Senin (20/4).
Dia menilai selain tekanan sosial digital, kesehatan mental perempuan menjadi isu penting yang tidak boleh diabaikan. Peran ibu sebagai pusat stabilitas keluarga dinilai sangat menentukan perkembangan anak.
“Ibu adalah penopang keluarga. Kalau ibu sehat dan bahagia, keluarga juga akan ikut sehat,” ujarnya.
Rini juga menekankan kesehatan perempuan tidak hanya fisik, tetapi juga mental. Di tengah tekanan modern, kewarasan emosional menjadi fondasi penting dalam pengasuhan.
Untuk menjawab tantangan itu, Pemkot Surabaya bersama TP PKK terus memperkuat program edukasi keluarga seperti Sekolah Orang Tua Hebat (SOTH) dan Kemangi (Kelas Remaja, Orang Tua Tangguh, Kreatif, dan Mandiri).
“Kami ingin perempuan Surabaya tidak hanya kuat secara peran, tetapi juga tangguh secara mental dan sosial,” pungkasnya. (mcr23/jpnn)





































