jpnn.com - Indonesia saat ini menghadapi tantangan kesehatan serius terkait penyakit autoimun. Berdasarkan data terbaru, tercatat sekitar 1,4 juta pasien Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau yang akrab dikenal sebagai penyakit Lupus.
Angka yang sangat besar ini kian mengkhawatirkan karena tingkat mortalitas atau kematian pasien SLE di Indonesia mencapai 8,1%, menempatkannya sebagai salah satu yang tertinggi di dunia.
"Ironisnya, di balik tingginya angka tersebut, mayoritas penderita justru terlambat terdiagnosis dan baru mendapat kepastian medis setelah terjadi kerusakan organ tubuh yang fatal," kata Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, Kamis (28/5).
Melihat urgensi ini, bertepatan dengan momentum Hari Lupus Sedunia, AstraZeneca Indonesia menginisiasi sebuah gerakan edukasi bertajuk "From Burden to Living Well". Program ini dirancang khusus untuk mendobrak stigma, mempercepat deteksi dini, dan memperluas akses pengobatan yang tepat bagi masyarakat.
"Langkah nyata ini diharapkan mampu mengubah nasib jutaan penyandang Lupus di tanah air agar tidak lagi terjebak dalam kepasrahan, melainkan beralih menuju kualitas hidup yang jauh lebih baik," ungkapnya.
Menemukan dan mendiagnosis SLE bukanlah perkara mudah karena penyakit ini dikenal sebagai penyakit seribu wajah. Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi, dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR, menjelaskan bahwa manifestasi klinis Lupus sangat beragam dan gejalanya tidak spesifik.
Pasien bisa saja hanya merasakan kelelahan ekstrem, nyeri sendi yang hilang timbul, atau ruam kulit yang sering kali dikira sebagai alergi biasa.
"Sifat gejalanya yang fluktuatif bisa mendadak parah atau mendadak reda membuat proses pemeriksaan medis menjadi sangat panjang dan melelahkan," kata Sandra.





































