jpnn.com, JAKARTA - Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan BPJS Ketenagakerjaan perlu mengambil peran lebih sentral sebagai motor penggerak keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dengan fokus utama pada upaya pencegahan kecelakaan kerja di Indonesia.
Menaker Yassierli menilai upaya pencegahan perlu terus diperkuat agar perlindungan pekerja dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.
Berdasarkan data tahun 2025, tercatat sebanyak 319.224 klaim kecelakaan kerja di Indonesia.
Dari jumlah tersebut, 9.834 kasus berujung kematian dan 4.133 kasus menyebabkan cacat fungsi maupun cacat total.
Menurut Yassierli, pendekatan yang selama ini cenderung reaktif, yaitu hanya berfokus pada pemenuhan kompensasi, tidak akan berkelanjutan secara aktuarial.
"Investasi di hulu melalui program promotif dan preventif akan menghasilkan penghematan yang jauh lebih besar di hilir,” kata Menaker Yassierli saat menjadi pemateri dalam acara bertema Menguatkan Peran BPJS Ketenagakerjaan dalam Mengurangi Kecelakaan Kerja di Industri di Jakarta, Kamis (21/5).
Menaker Yassierli juga menyoroti data penyakit akibat kerja (PAK) yang tercatat sebanyak 158 kasus.
Angka tersebut dinilai belum sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan karena masih terdapat tantangan dalam pelaporan kasus.








































