jpnn.com, JAKARTA - Kehadiran Buku Saku 0% “Manfaat dan Penerima Program Dukungan Kesejahteraan Tahun 2026” tidak hanya dipandang sebagai panduan teknis program pemerintah, tetapi juga sebagai bagian dari narasi besar pembangunan nasional.
Buku ini merepresentasikan upaya menghadirkan negara secara nyata dalam kehidupan masyarakat, sekaligus memperkuat fondasi sosial menuju Indonesia Maju.
Kulturolog Indonesia Iwan Jaconiah melihat buku saku ini sebagai refleksi dari arah kebijakan pemerintah yang menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai pusat dari transformasi bangsa, sekaligus mempertegas peran negara dalam melindungi kelompok rentan.
“Visi besar ‘Bersama Indonesia Maju’ yang diusung oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto tak sekadar slogan politik, namun sebuah komitmen transformatif untuk memperkuat fondasi bangsa,” ujarnya.
Iwan menilai program kesejahteraan yang dijalankan pemerintah merupakan instrumen konkret yang tidak hanya bersifat teknokratis, tetapi juga menjadi manifestasi nyata dalam menerjemahkan konsep besar “Negara Hadir” ke dalam kebijakan yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat di level paling bawah.
“Melalui berbagai program dukungan kesejahteraan, pemerintah berupaya mewujudkan filosofi ‘Negara Hadir’, sebuah kondisi di mana instrumen kekuasaan digunakan sepenuhnya untuk melindungi dan mengangkat derajat kelompok yang paling rentan,” jelasnya.
Menurutnya, kehadiran negara yang konsisten dan terasa langsung di tengah masyarakat akan melahirkan kekuatan sosial baru, yang menjadi fondasi penting dalam membangun kemandirian dan daya tahan bangsa ke depan.
“Ketika negara hadir secara nyata di tengah masyarakat, maka terciptalah ‘Rakyat Kuat’ yang menjadi mesin utama penggerak menuju ‘Indonesia Maju’,” urainya.









































