jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Tekanan harga pada kelompok pangan dan perhiasan menjadi pemicu utama kenaikan inflasi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Februari 2026. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY mencatat inflasi bulanan sebesar 0,68 persen (mtm), setelah sempat mengalami deflasi sebesar 0,16 persen pada Januari lalu.
Kepala Kantor Perwakilan BI DIY Sri Darmadi Sudibyo dalam keterangannya di Yogyakarta, Selasa (3/3), menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar, yakni mencapai 0,37 persen.
Kenaikan harga cabai rawit dan cabai merah menjadi sorotan utama. Sri Darmadi menyebutkan bahwa tingginya curah hujan selama Februari telah menurunkan produksi di tingkat petani sehingga pasokan di pasar berkurang.
"Kenaikan harga cabai rawit dan cabai merah dipengaruhi oleh penurunan produksi akibat tingginya curah hujan di DIY selama Februari. Hal ini diperparah dengan meningkatnya permintaan masyarakat memasuki bulan Ramadan dan menjelang Idulfitri 1447 H," kata Sri Darmadi.
Selain cabai, komoditas daging ayam ras dan telur ayam ras juga memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,07 persen dan 0,05 persen akibat konsumsi masyarakat yang meningkat tinggi.
Selain sektor pangan, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut menyumbang inflasi yang signifikan.
Kenaikan harga emas perhiasan memberikan andil sebesar 0,30 persen. Hal ini sejalan dengan tren kenaikan harga emas global yang dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik internasional, yang membuat investor beralih ke aset aman.
Di tengah tren kenaikan berbagai kebutuhan, sektor transportasi muncul sebagai penahan inflasi lebih lanjut.








































