jpnn.com - Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Garut (GMPG) kecewa atas lambannya penyelidikan tragedi Pesta Rakyat Garut pada 18 Juli 2025, di Pendopo Kabupaten Garut.
Insiden saat pesta pernikahan anak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi itu menewaskan tiga warga dan puluhan orang lainnya luka-luka akibat desak-desakan ketika berebut bantuan.
Koordinator Lapangan GMPG Taofik Rofi menilai insiden tersebut merupakan bentuk kelalaian serius dari pihak penyelenggara acara sekaligus kegagalan dalam pengamanan teknis di lapangan.
Menurutnya, tragedi yang menelan korban jiwa tersebut seharusnya sudah ditangani secara cepat dan transparan oleh aparat penegak hukum.
"Sudah hampir tujuh bulan sejak kejadian, tetapi publik tidak diberi kejelasan mengenai arah penyelidikan. Ini peristiwa yang merenggut nyawa, bukan perkara kecil. Tidak boleh ada satu pun pihak yang berusaha mengaburkan tanggung jawab," ujar Taofik Rofi melalui siaran pers, Kamis (15/1/2026).
Taofik mengatakan kepolisian memang telah memeriksa sejumlah saksi, termasuk 11 orang yang diduga mengetahui detail pelaksanaan kegiatan. Namun demikian, hingga saat ini tidak ada perkembangan yang disampaikan kepada publik.
GMPG menilai keterbukaan dalam penanganan kasus itu sangat penting agar masyarakat tidak merasa proses hukumnya sengaja diperlambat.
Dia pun menyoroti minimnya kesiapan panitia dalam mengantisipasi potensi kerumunan. Area pendopo yang memiliki gerbang sempit, tidak adanya pengaturan arus masuk, serta jumlah paket bantuan yang tidak sebanding dengan jumlah warga disebut menjadi penyebab utama terjadinya dorongan besar hingga jatuhnya korban.














































